Sekretariat : Jl. Taman Bahagia Kelurahan Benteng Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi

Click here to edit subtitle

More
  • Home
  • Informasi
  • Artikel
  • Photo Gallery

Artikel Post New Entry

« Back to Artikel « Older Entry | Newer Entry »

RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL NATURE COMPREHENSION AND ENVIRONMENTAL ATTITUDE WITH ENVIRONMENTAL BEHAVIOR

Posted by [email protected] on February 27, 2017 at 10:20 PM

RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL NATURE COMPREHENSION AND ENVIRONMENTAL ATTITUDE WITH ENVIRONMENTAL BEHAVIOR

 

REGINA MULIA

[email protected]

Mahasiswa S2 Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Program Studi Pendidikan kependudukan dan Lingkungan Hidup

 

 

This aim of this research is to find out the relationship between social nature comprehension and environmental attitude with environmental behavior.

This research is a quantitative research with survey method , the sample used in this study as many as 200 people living around the foot of Mount Gede Pangrango in District Kadudampit - Sukabumi using questionnaires and questionnaires . In this study, the research found that the social nature comprehension and environmental attitude is essential to improve the environmental behavior because it contributes and has a significant relationship . Then the implications of this research will be directed towards improving the environmental behavior of the community around the foot of Mount Gede Pangrango through social nature comprehension and environmental attitude so that the public be able to develop and enhance the social nature comprehension and environmental attitude , so that environmental behavior society becomes better

 

Keywords : social nature comprehension, environmental attitude, and environmental behavior

 

 

PENDAHULUAN

Perilaku berwawasan lingkungan masyarakat untuk menjaga alamnya supaya tetap lestari sering kali dicederai oleh segelintir pihak tidak bertanggung jawab, salah satunya dicerminkan melalui sikap-sikap negatif seperti perburuan hewan liar, penebangan hutan secara ilegal, membuka lahan dengan cara dibakar, mengambil tanaman yang dilarang seperti bunga edelweiss di puncak gunung dan perilaku negatif lainnya. Belum lagi jika ditambah pemahaman masyarakat tentang alam, kerap kali masyarakat mengabaikan segala bentuk perubahan yang terjadi pada alam sehingga bencana seolah menjadi rutinitas yang dialami masyarakat sekitar di waktu tertentu.

Fishbein dan Ajzen meyakini bahwa seseorang pada dasarnya rasional, dalam bahwa mereka menggunakan informasi sistematis yang tersedia bagi mereka dan tidak dikendalikan oleh motif ketidak sadaran atau keinginan yang kuat, bukan merupakan perilaku karena mereka berubah-ubah atau dipikirkan . Sikap tidak menentukan perilaku secara langsung, bukan mereka dipengaruhi niat untuk berperilaku yang pada gilirannya membentuk tindakan kita. Niat tidak hanya dipengaruhi oleh sikap tetapi juga oleh tekanan sosial (normatif). Jadi penentu utama dari setiap perilaku adalah keyakinan bahwa setiap perilaku ada konsekuensinya dan keyakinan normatif dari orang lain faktor pendorongnya .


Pada tahun 1986, Hines, Hungerford dan Tomera mengenalkan model mereka yaitu Perilaku Bertanggung Jawab Lingkungan yang didasarkan pada teori Ajzen dan Fishbein . Mereka melakukan meta-analisis dari 128 studi penelitian perilaku pro-lingkungan dan menemukan variabel berikut yang berhubungan dengan perilaku pro-lingkungan yang bertanggung jawab: (1)Pengetahuan tentang isu-isu: Orang harus akrab dengan masalah lingkungan dan penyebabnya. (2) Pengetahuan tentang strategi tindakan: Orang harus tahu bagaimana bertindak supaya tindakan yang dilakukannya tidak berdampak pada kerusakan lingkungan. (3) Locus of control: merupakan persepsi individu darimana seseorang memiliki kemampuan untuk membawa perubahan melalui perilakunya sendiri. Orang dengan locus internal yang kuat secara kontrol percaya bahwa tindakan mereka dapat membawa perubahan. Orang dengan locus of control eksternal, di sisi lain, merasa bahwa tindakan mereka adalah sepele dan tidak bisa, serta merasa bahwa perubahan hanya bisa dibawa oleh orang lain yang memiliki kekuatan. (4) Sikap: Orang dengan sikap pro-lingkungan yang kuat lebih cenderung terlibat dalam perilaku pro-lingkungan, namun hubungan antara sikap dan tindakan terbukti lemah. (5) Komitmen Verbal: Kesediaan dihubungkan kedalam mengambil tindakan juga memberikan beberapa indikasi tentang kesediaan orang untuk terlibat dalam perilaku pro-lingkungan. (6) Rasa tanggung jawab Individu: Orang dengan rasa tanggung jawab pribadinya lebih besar akan lebih cenderung terlibat dalam perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Gambar dibawah ini adalah model teori yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein


Model altruisme, empati, dan perilaku prososial adalah kerangka lain untuk menganalisis perilaku pro-lingkungan. perilaku prososial didefinisikan oleh Eisenberg dan Miller sebagai 'perilaku sukarela secara disengaja, yang kemudian menghasilkan manfaat bagi yang lain: motif yang tidak ditentukan dan bisanya positif, negatif, atau bahkan keduanya' . Altruisme adalah bagian dari perilaku prososial.

Beberapa peneliti lain mendasarkan model dan asumsi mereka pada teori altruisme, mereka mengklaim bahwa altruisme diperlukan atau setidaknya mendukung perilaku pro-lingkungan. Stern et al. mendasarkan modelnya pada teori altruisme dari Schwartz. Teori ini mengasumsikan bahwa perilaku altruistik meningkat ketika seseorang menjadi sadar penderitaan orang lain dan pada saat yang sama merasa bertanggung jawab meringankan penderitaan ini. Stern et al. memperluas gagasan ini dan menambahkan pernyataan bahwa, di samping orientasi altruistic ini, mereka menyebut orientasi sosial, egois dan orientasi biosfir. Stern et al. mengusulkan bahwa kepedulian lingkungan disebabkan oleh kombinasi dari tiga faktor ini:

Fietkau dan Kessel menggunakan sosiologis serta faktor psikologis untuk menjelaskan perilaku pro-lingkungan atau kekurangan perilaku tersebut. Model mereka terdiri dari lima variabel yang mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung dari perilaku pro-lingkungan. variabel ini independen antara satu sama lain dan dapat dipengaruhi serta diubah.


Blake menyatakan tentang kesenjangan sikap-perilaku sebagai Nilai-Action Gap. Dia menunjukkan bahwa kebanyakan model perilaku pro-lingkungan terbatas karena mereka gagal memperhitungkan catatan individu, sosial, kendala kelembagaan dan menganggap bahwa manusia adalah rasional dan memanfaatkan sistematis informasi yang tersedia bagi mereka. Redclift dan Benton untuk meringkas pendekatan baru ini: Salah satu wawasan yang paling penting dari ilmuwan sosial dalam diskusinya tentang lingkungan adalah sesungguhnya perbandingan rasional lingkungan hidup kita yaitu untuk mengubah sikap atau gaya hidup kita, sehingga untuk memajukan kondisi umum dari 'human interest' dan tanggung jawabnya tidak efektif.


Blake mengidentifikasi tiga hambatan untuk bertindak: Hambatan pertama individualitas, tanggung jawab, dan praktis, hal yang berkaitan dengan sikap dan temperamen. Hambatan kedua Blake yaitu tanggung jawab, sangat dekat dengan gagasan psikologis dari 'locus of control'. Hambatan Ketiga, kepraktisan, Blake mendefinisikannya sebagai kendala sosial dan kelembagaan yang mencegah orang dari bertindak pro-lingkungan terlepas dari sikap atau niat mereka.

Mereka membahas hanya beberapa dari banyak model yang berbeda dan telah dikembangkan untuk menjelaskan kesenjangan antara sikap dan tindakan, meneliti hambatan untuk perilaku pro-lingkungan.

Faktor spesifik yang telah ditetapkan sebagai beberapa pengaruh (positif atau negatif) pada model perilaku pro-lingkungan yang telah mereka pilih. Perbedaan dan hirarki antara berbagai faktor berpengaruh sampai batas tertentu. Faktor tersebut yaitu : faktor demografi, faktor eksternal, faktor ekonomi, faktor-faktor sosial dan budaya, Faktor internal dan pengetahuan lingkungan.

 

Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah model korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Pemahaman masyarakat tentang alam dan Sikap lingkungan dengan Perilaku berwawasan lingkungan yang dilakukan di empat Desa yaitu Desa Cikahuripan, Desa Sukamanis, Desa Cipetir dan Desa Gedepangrango di Kecamatan Kadudampit. Meteode pengambilan sampel dilakukan dengan cara multistage random sampling, sehingga terpilih masyarakat dari ke empat desa tersebut sebanyak 200 orang.

 

Hasil Penelitian

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Pemahaman masyarakat tentang alam dengan Perilaku berwawasan lingkungan, hubungan antara Pemahaman masyarakat tentang alam (X1) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) ditunjukan oleh persamaan regresi linear Ŷ = 100,64 + 0,39 X1.

Berdasarkan hasil uji signifikansi regresi dan linearitas seperti terlihat pada tebel bahwa Pemahaman masyarakat tentang alam (X1) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan dan linear. Hal ini berarti persamaan regresi Ŷ = 100,64 + 0,39 X1 menunjukan bahwa setiap kenaikan satu skor Pemahaman masyarakat tentang alam akan diikuti dengan kenaikan 0,39 skor konservasi mata air pada konstanta 100,64.

Berdasarkan hasil perhitungan, kekuatan hubungan antara X1 dengan Y ditunjukan oleh koefisiensi Ryx1 0,200. Hasil perhitungan ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi  = 0,05 dengan n = 200 diperoleh nilai r-tabel = 0,138, oleh karena itu Ryx1 = 0,200 > r-tabel = 0,138, maka disimpulkan bahwa hubungan antara Pemahaman masyarakat tentang alam (X1) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan (tolak H0). Dengan ditolaknya H0 dan diterimanya H1 maka dinyatakan untuk saat ini, terdapat hubungan yang signifikan antara Pemahaman masyarakat tentang alam (X1) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y).

Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Sikap lingkungan dengan Perilaku berwawasan lingkungan, hubungan antara Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) ditunjukan oleh persamaan regresi linear Ŷ = 75,87 + 0,17 X2.

Berdasarkan hasil uji signifikansi regresi dan linearitas seperti terlihat pada tebel bahwa Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan dan linear. Hal ini berarti persamaan regresi Ŷ = 75,87 + 0,17 X2. menunjukan bahwa setiap kenaikan satu skor Sikap lingkungan akan diikuti dengan kenaikan 0,17 skor konservasi mata air pada konstanta 75,87.

Berdasarkan hasil perhitungan, kekuatan hubungan antara X2 dengan Y ditunjukan oleh koefisiensi Ryx1 0,181. Hasil perhitungan ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi  = 0,05 dengan n = 200 diperoleh nilai r-tabel = 0,138, oleh karena itu Ryx1 = 0,181 > r-tabel = 0,138, maka disimpulkan bahwa hubungan antara Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan (tolak H0). Dengan ditolaknya H0 dan diterimanya H1 maka dinyatakan untuk saat ini, terdapat hubungan yang signifikan antara Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y).

Berdasarkan hasil uji signifikansi regresi dan linearitas seperti dijelaskan pada hipotesis pertama dan kedua bahwa Pemahaman masyarakat tentang alam (X1) dan Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan dan linear.

Berdasarkan hasil perhitungan, kekuatan hubungan antara X2 dengan Y ditunjukan oleh koefisiensi R12.3 = 0,452. Hasil perhitungan ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi  = 0,05 dengan n = 200 diperoleh nilai r-tabel = 0,138, oleh karena itu Ryx1 = 0,452 > r-tabel = 0,138, maka disimpulkan bahwa hubungan antara Sikap lingkungan (X2) dengan Perilaku berwawasan lingkungan (Y) adalah signifikan (tolak H0)

 

PENUTUP

Kesimpulan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Pemahaman masyarakat tentang alam dan Sikap lingkungan dengan Perilaku berwawasan lingkungan bersandar pada model teori menurut Owens, Rajecki, Ajzen dan Fishbein, Hines, Hungerford dan Tomera, Diekmann dan Franzen yaitu model theory of reasoning action, model of predictor of environmental behavior, model of ecological behavior, model barriec between environmental concern and action.

Pertama, Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Pemahaman masyarakat tentang alam dan Sikap lingkungan dengan Perilaku berwawasan lingkungan. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa Pemahaman masyarakat tentang alam mampu merangsang dirinya untuk bersifat rasional dan rasionalitas tersebut mengarahkan orang untuk melakukan tindakan yang tidak merugikannya (mendapat bencana) sehingga hal tersebut memunculkan perilaku berwawasan lingkungan secara positif.

Kedua, salah satu faktor pendorong lain munculnya Perilaku berwawasan lingkungan dan Pemahaman masyarakat tentang alam adalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam upaya pelestarian alam.

Implikasi : Pada hakikatnya penelitian ini adalah sebagai upaya untuk mengadakan pengujian hubungan dari variabel yang diteliti. Penelitian ini secara umum menyimpulkan terdapat hubungan positif, baik secara bebas maupun terikat antara Pemahaman masyarakat tentang alam dan Sikap lingkungan dengan Perilaku berwawasan lingkungan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dari kesimpulan ini dapat dikemukakan beberapa implikasi penelitian dalam menjaga nilai Perilaku berwawasan lingkungan masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah dapat senantiasa dipelihara salah satunya melalui pemikiran cerdas masyarakat dalam memahami setiap gejala alam sehingga mereka mampu menjaga perbuatannya dari gejala kerusakan alam ketika berada di lingkungannya, sikap lingkungan masyarakat secara positif akan senantiasa mengarahnya untuk berbuat hal yang tidak merusak alam.

 

Saran : Pada umumnya masyarakat di wilayah sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango khususnya di empat desa yang diteliti terbangun kesadarannya melalui adanya kebijakan yang dibuat baik oleh pemerintah maupun tokoh masyarakat di lingkungan tersebut sehingga hal itu harus senantiasa dijaga. Bagi instansi pemerintah diharapkan lebih ditingkatkan kembali khususnya kapasitas pengembangan diri masyarakat dalam berprilaku agar perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat bersifat positif. Bagi peneliti disarankan untuk mengembangkan hasil penelitian ini dengan penelitian selanjutnya sehingga lebih sempurna hasil yang bisa dicapai. Selain itu untuk penelitian selanjutnya sampel bisa lebih banyak agar data lebih akurat dengan memilih wilayah lain untuk dijadikan sampel penelitian.

 

DAFTAR RUJUKAN

ACKERMANN, F. : Why Do We Recyle? Markets, Values, and Public Policy (Washington, DC, Island Press, 1997).

AGYEMAN, J. & ANGUS, B. (forthcoming) Community-based social marketing for sustainability: tools and ahhroaches for changing personal transportation behaviour.

AJZEN, I. & FISHBEIN, M. : Understanding Attitudes and Predicting Social Behavior (Englewood Cliffs, NJ, Prentice Hall, 1980).

ALLEN, J.B. & FERRAND, J. Environmental locus of control, sympathy, and pro-environmental behavior: a test of Geller’s actively caring hypothesis, Environment and Behavior, (1999), 31(3), hh. 338–353.

BLAKE, J. : Overcoming the ‘value–action gap’ in environmental policy: tensions between national policy and local experience, Local Environment, (1999), 4(3), hh. 257–278.

BLOOMFIELD, D., COLLINS, K., FRY, C. & MUNTON, R. : Deliberative and Inclusionary Processes: their contribution to environmental governance (London, Environment and Society Research Unit, Department of Geography, University College, 1998).

BOEHMER-CHRISTIANSEN, S. & SKEA, J. : Acid Politics: environmental and energy policies in Britain and Germany (New York, Belhaven Press, 1991).

BORDEN, D. & FRANCIS, J.L. : Who cares about ecology? Personality and sex difference in environmental concern, Journal of Personality, (1978), 46, hh. 190–203.

BURGESS, J., HARRISON, C. & FILIUS, P. : Environmental communication and the cultural politics of environmental citizenship, Environment and Planning A, (1998), 30, hh. 1445–1460.

CHAWLA, L. : SigniŽcant life experiences revisited: a review of research on sources of pro-environmental sensitivity, The Journal of Environmental Education, (1998), 29(3), hh. 11–21.

CHAWLA, L. : Life paths into effective environmental action, The Journal of Environmental Education, (1999), 31(1), hh. 15–26.

DIEKMANN, A. & FRANZEN, A. : Einsicht in o ¨kologische Zusammenha ¨nge und Umweltver-halten, in: R. KAUFMANN-HAYOZ & A. DI GIULIO (Eds) Umweltproblem Mensch: Humanwis-senschaftliche Zusammenha ¨nge zu umweltverantwortlichem Handeln (Bern, Verlag Paul Haupt, 1996).

___The wealth of nations, Environment and Behavior, (1999), 31(4), hh.540–549.

DIEKMANN, A. & PREISENDOERFER, P. Persoenliches Umweltverhalten: Die Diskrepanz zwischen Anspruch und Wirklichkeit Koelner Zeitschrift fuer Soziologie und Sozialpsychologi e (1992), 44, hh. 226–251.

EISENBERG, N. & MILLER, P. : The relation of empathy to prosocial and related behaviors, Psychological Bulletin (1987), 101, hh. 91–119.

FESTINGER, L. : Theory of Cognitive Dissonance (Stanford, CA, Stanford University Press, 1957).

FIETKAU, H.-J. & KESSEL, H. : Umweltlernen: Veraenderungsmoeglichkeiten des Umweltbewusst-seins. Modell-Erfahrungen (Koenigstein, Hain, 1981).

FISHBEIN,M. & AJZEN, I. : Belief, Attitude, Intention, and Behavior: an introduction to theory and research (Reading, MA, Addison-Wesley, 1975).

FLIEGENSCHNEE , M. & SCHELAKOVSKY, M. : Umweltpsychologi e und Umweltbildung: eine Ein fuhrung aus humanokologischer Sicht (Wien, Facultas Universitats Verlag, 1998).

FUHRER, U., KAISER, F.G., SEILER, J. & MAGGI, M. : From social representations to environmental concern: the inuence of face to face versus mediated communication, in: U. FUHRER (Ed.) Oekologisches Handeln als sozialer Prozess (Basel, Birkhaeuser, 1995).

GIGLIOTTI, L.M. : Environmental attitudes: 20 years of change?, The Journal of Environmental Education (1992), 24(1), hh. 15–26.

GIGLIOTTI, L.M. : Environmental issues: Cornell students’ willingness to take action, The Journal of Environmental Education (1994), 25(1), hh. 34–42.

GROB, A. : Meinung, Verhalten, Umwelt (Bern, Peter Lang Verlag). HINES, J.M., HUNGERFORD, H.R. & TOMERA, A.N. (1986–87). Analysis and synthesis of research on responsible pro-environmental behavior: a meta-analysis, The Journal of Environmental Education (1991), 18(2), hh. 1–8.

HUNGERFORD, H.R. & VOLK, T.L. : Changing learner behavior through environmental education, The Journal of Environmental Education (1990), 21(3), hh. 8–21.

KAISER, F.G., WOELFING, S. & FUHRER, U. : Environmental attitude and ecological behavior, Journal of Environmental Psychology (1999), 19, hh. 1–19.

KEMPTON, W., BOSTER, J.S. & HARTLEY, J.A. : Environmental Values in American Culture (Cambridge, MA, MIT Press, 1995).

Koran Harian Tempo : Kerusakan Hutan Indonesia Terus Meningkat http://www.tempo.co/read/news (diakses 21 Januari 2016).

LEHMANN, J. : Befunde empirischer Forschung zu Umweltbildung und Umweltbewusstsein (Opladen, Leske und Budrich, 1999)

MCKENZIE-MOHR, D. & SMITH, W. : Fostering Sustainable Behavior: an introduction to community-based social marketing (Gabriola Island, Canada, New Society Publishers, 1999).

MCLAREN, D., BULLOCK, S. & YOUSUF, N. : Tomorrow’s World. Britain’s Share in a Sustainable Future (London, Earthscan,1998).

MINDELL, A. : City Shadow’s: psychological interventions in psychiatry (London, Routledge,1988).

MOISANDER, J. (1998) Motivation for Ecologically Oriented Consumer Behavior, Workshop Proceedings, March. The European Science Foundation (ESF) TERM (Tackling Environmental Resource Management Phase II 1998–2000). http://www.lancs.ac.uk/users/scistud/esf/lind2.htm

NEWHOUSE, N. : Implications of attitude and behavior research for environmental conservation, The Journal of Environmental Education (1991), 22(1), hh. 26–32.

O’RIORDAN, T. & BURGESS, J. (Eds) (1999) Deliberative and Inclusionary Processes: a report of two seminars (Norwich, CSERGE, School of Environmental Sciences).

OWENS, S. : Engaging the public: information and deliberation in environmental policy, Environment and Planning A (2000), 32, hh. 1141–1148.

Putrawan I Made : Pengujian Hipotesis dalam Penelitian-Penelitian Sosial. Rineka Cipta 1990

PREUSS, S. : Umweltkatastrophe Mensch. Ueber unsere Grenzen und Moeglichkeiten, oekologisch bewusst zu handeln (Heidelberg, Roland Asanger Verlag, 1991).

Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta : Buku Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi 2012.

RAJECKI, D.W. : Attitudes: themes and advances (Sunderland, MA, Sinauer,1982).

REDCLIFT, M. & BENTON, T. : Introduction, in: M. REDCLIFT & T. BENTON (Eds) Social Theory and the Global Environment (London, Routledge, 1994).

REGIS, D. : Self-concept and conformity in theories of health education, Doctoral disertation, School of Education, University of Exeter(1990). http://helios.ex.ac.uk/ dregis/PhD/Contents.html

SIA, A.P., HUNGERFORD, H.R. & TOMERA, A.N : Selected predictors of responsible environmental behavior: an analysis, The Journal of Environmental Education, 17(2) 1985–86, hh. 31–40.

SCHWARTZ, S.H. Normative inuences on altruism, in: L. BERKOWITZ (Ed.) Advances in Experimental Social Psychology, Vol. 10 (New York, Academic Press, 1977).

STERN, P.S., DIETZ, T. & KARLOF, L : Values orientation, gender, and environmental concern, Environment and Behavior, 25(3), 1993, hh. 322–348.

VON WEIZAECKER, E.U. & JESINGHAUS, J. : Ecological Tax Reform (New Jersey, Zed Books, 1992).

WACKERNAGEL, M. & REES, W : Unser oelogische r Fussabdruck: Wie der Mensch Einuss auf die Umwelt nimmt [Our Ecological Footprint] (Basel, Switzerland, Birkhaeuser Verlag, 1997).

WILKIE, W.L : Consumer Behavior, 2nd edn (New York, John Wiley & Sons,1990).

 

Categories: Pendidikan

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Loading...

Categories

  • Pendidikan (4)
  • Tokoh (1)
  • Agama (1)
  • Sosial (1)
  • Sejarah (1)
Create your own free website today
Webs
Better Websites Made Simple